Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2016

Gaya Hidup Anak Perantauan (Dulu vs Sekarang)

Pindah ke lingkungan baru tentu akan mendorong seseorang untuk beradaptasi. Apalagi jika ia berpindah dari asal kotanya ke kota baru. "Beradaptasi" bisa berarti ia berusaha mengikuti gaya hidup di lingkungan barunya. Clara Matara, Jie Riani, dan Gerardo Andre Wijaya adalah 3 mahasiswa FIKom Untar yang merantau ke Ibu Kota untuk menempuh pendidikan. Banyak sekali gaya hidup yang baru ditemuinya di Jakarta, yang mungkin berbeda jauh dari asal kotanya. Meskipun tak semua gaya hidup itu berhasil diadaptasinya, namun tetap saja ternyata  ada gaya hidup Ibu Kota yang membuat mereka berbeda sebelum perantauan itu dimulai. 

Clara Matara



Clara merupakan wanita asal Kupang, NTT yang merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di FIKom Untar. Sewaktu di Kupang, ia bercerita kalau ia tidak hobi nongkrong di cafe-cafe karena di daerah belum terlalu banyak cafe. Ia juga tidak terlalu mempedulikan penampilan, biasanya ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek ketika bepergian. Clara pun masih belum terlalu mandiri dalam mengurus diri sendiri.

Namun semuanya berubah ketika ia menginjakkan kakinya di Jakarta. Ia dituntut untuk mandiri dalam mengurus segala hal. Perlahan Clara mulai memperhatikan stylenya baik dalam hal berpakaian dan berdandan mengikuti style anak Jakarta. “Di Jakarta juga aku mulai bisa ngurus dan ngatur semua waktu ku sendiri dan mulai hobi nongkrong karena di Jakarta kalau nggak nongkrong gak asik”, curhat Clara.

Tetapi ia juga sempat mengalami Culture Shock saat memasuki lingkungan baru. Gaya bicara warga Jakarta yang menggunakan gue-lo terdengar aneh ditelinganya, sebab di daerah asalnya dulu, ia biasa menggunakan kata aku-kamu. “Culture shock aku selanjutnya adalah aku masih aneh dengan lingkungan yang cewenya ngerokok dan miras-an. Itu yang buat aku belum bisa terima”, tambahnya.


Jie Riani



Jie Riani adalah mahasiswa FIKom Untar angkatan 2013 kelahiran Makassar 8 Mei 1994. Sewaktu masih berada di Makassar dulu, biasanya untuk berbelanja kebutuhan dirinya sendiri, ia akan meminta uang dari ortu. Ia pun lebih lebih boros dalam mengeluarkan uang. Sementara ketika ia berada di Jakarta, ia harus bisa mengirit uang jajan yang diberikan agar cukup untuk 1 bulan.

Jie pun bercerita ,”karena gak ada ortu di Jakarta, semuanya harus serba sendiri, ngurusin sendiri. Kalo ada ortu kan bisa manja-manja terus keperluan sehari-hari udah terpenuhi jadi ga usah beli sendiri”.

Seperti Clara, Jie juga sempat mengalami Culture Shock. Bahasa dan logat yang berbeda menjadi kendalanya. Sehingga di awal memasuki perkuliahan, ia lebih memilih untuk banyak diam dibanding berbicara. Beruntung di Jakarta ia tinggal bersama dengan tantenya, ia pun banyak mendapatkan masukan bagaimana cara hidup di Jakarta sehingga ia dapat beradaptasi dengan cepat.


Gerardo Andre Wijaya





Andre sapaan akrabnya adalah mahasiswa baru FIKom Untar 2016 yang berasal dari Bangka Belitung. Sebelum tiba di Jakarta untuk berkuliah, Andre memang sudah mempersiapkan diri dan mental agar dapat cepat beradaptasi dan mampu untuk hidup mandiri. Ia pun hanya butuh waktu 4 hari untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Ia juga menceritakan bahwa gaya hidupnya ketika di Belitung dengan ketika ia di Jakarta tak berbeda jauh. Hanya saja karena jauh dari orang tua, ia jadi sedikit lebih nakal seperti suka begadang hingga larut malam. Pun begitu, ia tidak ikut terjerumus ke dalam pergaulan negatif  seperti merokok dan minum minuman beralkohol.


Merantau ke Ibu Kota ternyata tidak akan selalu terjurumus gaya hidup Ibu Kota itu sendiri. Contohnya ada Clara, Jie, dan Andre yang cukup cepat beradaptasi di Jakarta namun tidak mudah terdorong akan semua gaya hidup didalamnya. Jakarta memang terkenal dengan pergaulan dan gaya hidup yang condong ke arah negatif. Namun, itu tergantung diri kita sendiri apakah kita mau ikut terjerumus hal-hal yang negatif atau positif. Karena yang bisa mengkontrol diri kita hanyalah kita sendiri.

Penulis: Eunike Tania & Bella Hutabarat
Reporter: Eunike Tania
Editor: Bella Hutabarat


Gaya Hidup Anak Perantauan (Dulu vs Sekarang)




Bagi Untarian yang berstatus mahasiswa baru dan berasal dari daerah, pastinya memerlukan kesiapan mental untuk beradapatasi di lingkungan, pergaulan, serta bahasa yang baru. Terlebih lagi, terdapat perbedaan gaya hidup sewaktu kamu berada di daerah dengan saat di Jakarta.Kamu tentu akan mengalami culture shock di masa-masa awal berada di Jakarta. Namun kamu tidak perlu kuatir, beberapa mahasiswa FIKom Untar ini berhasil mengatasi culture shocknya dan bisa beradaptasi dengan gaya hidup baru di Jakarta, siapa sajakah mereka?


1.      Clara Matara





Clara merupakan wanita asal Kupang, NTT yang merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di FIKom Untar. Sewaktu di Kupang, ia bercerita kalau ia tidak hobi nongkrong di cafe-cafe karena di daerah belum terlalu banyak cafe. Ia juga tidak terlalu mempedulikan penampilan, biasanya ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek ketika bepergian. Clara pun masih belum terlalu mandiri dalam mengurus diri sendiri.

Namun semuanya berubah ketika ia menginjakkan kakinya di Jakarta. Ia dituntut untuk mandiri dalam mengurus segala hal. Perlahan Clara mulai memperhatikan stylenya baik dalam hal berpakaian dan berdandan mengikuti style anak Jakarta. “Di Jakarta juga aku mulai bisa ngurus dan ngatur semua waktu ku sendiri dan mulai hobi nongkrong karena di Jakarta kalau nggak nongkrong gak asik”, curhat Clara.

Tetapi ia juga sempat mengalami Culture Shock saat memasuki lingkungan baru. Gaya bicara warga Jakarta yang menggunakan gue-lo terdengar aneh ditelinganya, sebab di daerah asalnya dulu, ia biasa menggunakan kata aku-kamu. “Culture shock aku selanjutnya adalah aku masih aneh dengan lingkungan yang cewenya ngerokok dan miras-an. Itu yang buat aku belum bisa terima”, tambahnya.





2.      Jie Riani


Jie Riani adalah mahasiswa FIKom Untar angkatan 2013 kelahiran Makassar 8 Mei 1994. Sewaktu masih berada di Makassar dulu, biasanya untuk berbelanja kebutuhan dirinya sendiri, ia akan meminta uang dari ortu. Ia pun lebih lebih boros dalam mengeluarkan uang. Sementara ketika ia berada di Jakarta, ia harus bisa mengirit uang jajan yang diberikan agar cukup untuk 1 bulan.

Jie pun bercerita ,”karena gak ada ortu di Jakarta, semuanya harus serba sendiri, ngurusin sendiri. Kalo ada ortu kan bisa manja-manja terus keperluan sehari-hari udah terpenuhi jadi ga usah beli sendiri”.

Seperti Clara, Jie juga sempat mengalami Culture Shock. Bahasa dan logat yang berbeda menjadi kendalanya. Sehingga di awal memasuki perkuliahan, ia lebih memilih untuk banyak diam dibanding berbicara. Beruntung di Jakarta ia tinggal bersama dengan tantenya, ia pun banyak mendapatkan masukan bagaimana cara hidup di Jakarta sehingga ia dapat beradaptasi dengan cepat.

3.      Gerardo Andre Wijaya





Andre sapaan akrabnya adalah mahasiswa baru FIKom Untar 2016 yang berasal dari Bangka Belitung. Sebelum tiba di Jakarta untuk berkuliah, Andre memang sudah mempersiapkan diri dan mental agar dapat cepat beradaptasi dan mampu untuk hidup mandiri. Ia pun hanya butuh waktu 4 hari untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Ia juga menceritakan bahwa gaya hidupnya ketika di Belitung dengan ketika ia di Jakarta tak berbeda jauh. Hanya saja karena jauh dari orang tua, ia jadi sedikit lebih nakal seperti suka begadang hingga larut malam. Pun begitu, ia tidak ikut terjerumus ke dalam pergaulan negatif  seperti merokok dan minum minuman beralkohol.


Untarian, liat kan betapa mereka dulu juga pernah berjuang untuk membiasakan diri tinggal di Jakarta. Kamu juga pasti bisa banget untuk betah dengan gaya hidup di Jakarta. So, tetap semangat dan enjoy your life in Jakarta J

Penulis : Eunike Tania
Reporter : Eunike Tania

Editore    : Eunike Tania

Minggu, 02 Oktober 2016

Trend Rambut Tmblr Populer Masa Kini, Keren atau Norak?




Gaya tatanan rambut memang selalu menjadi sorotan bagi setiap orang dari waktu ke waktu. Perubahan gaya rambut sendiri terkadang diikuti oleh adanya perkembangan zaman, perkembangan mode dan fashion, serta mode / style yang terus berganti setiap tahunnya. Umumnya perkembangan gaya rambut ini mempengaruhi semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Meskipun demikian, tak sedikit  remaja terutama mereka yang sedang duduk di bangku perkuliahan berantusias dan selalu update dalam mengikuti perkembangan mode gaya rambut trend masa kini.

Mereka yang tidak bisa lepas dari trend rambut masa kini, bisa jadi dipengaruhi oleh arus globalisasi atau karena tidak mau kalah dengan gaya remaja seusianya, begitu pula dengan Untarian. Trend rambut masa kini  memiliki berbagai style, mulai dari potongan rambut poni ala korea, sampai mewarnai rambut. Pada artikel ini kita akan membahas mengenai coloring rambut yang saat ini sedang populer di kalangan Untarian, dari yang biasa saja sampai warna yang terbilang “ekstrim”.


Kok ekstrim? Bedanya sama yang biasa apa? Jadi…yang ekstrim itu adalah warna rambut yang sudah diwarnai dan warnanya bukan warna yang umum dipakai. Biasanya kalau kita lihat, warna rambut yang normal ialah hitam, cokelat tua dan muda, dan juga orange / kekuning-kuningan. Akan tetapi, kalau yang ekstrim ialah warna kuning terang, hijau, biru, ungu, dan pink muda  (melalui proses bleaching / penghilangan  warna pigmen rambut hitam pada kulit kepala). Nah, beberapa anak Untar ini berani mengaplikasikan warna rambut tersebut lho, siapa aja ya kira-kira? Yuk kita kepoin! 


1.       Hanna Bianca ( Mahasiswi FSRD UNTAR 2014)

 

“Aku sering juga sih warnain rambut, karena keren aja gitu kalo beda-beda. Terus sekarang lagi ngetrendnya warna begini, jadi ikutin aja hehehehe.”










2.       Alysia ( Mahasiswi Fakultas Psikologi UNTAR 2015)


 “Aku cat rambut pengen-pengen aja sih, pertama pengen soalnya liat cewe-cewe tmblr gitu warna pink bubblegum rambutnya. Terus ditantang dan didukung temen jadinya pengen. Kalo rusak apa enggak ya rusak sih, jadi kering. Makanya aku pake hair mask kadang-kadang”











3.       Tania Hendrica ( Alumni mahasiswi Fikom UNTAR 2012)


“Aku udah lebih dari 10 kali cat rambut. Pengen tampil beda aja, biar gampang dicari kalo ilang hahaha. Awal diajakin temen warnain aneh. Mumpung masih muda, coba-coba aja. Gue kan emang suka coba-coba, biar ngejreng aja.”












4.       Farah Yuniarti ( Mahasiswi Teknik Sipil UNTAR 2014 )


 

“Iya biar kekinian. Wahahaha, soalnya bosen si rambutnya begitu aja, biar lebih keren aja sih.”











Dilansir dari para narasumber, ternyata perawatan rambut sehabis diwarnai tidak murah lho.. Kalau tidak dilakukan perawatan, maka rambut yang sudah diwarnai pasti akan lebih cepat rusak, entah itu mulai dari kering, bercabang sampai rontok. Harganya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan ribu rupiah untuk sekali diwarnai ditambah biaya perawatannya saja. Nah, hasil dari warna rambut ini banyak yang bilang keren, tetapi tidak sedikit juga yang bilang norak lho. Menurut Untarian sendiri gimana, lifestyle seperti ini bagus, atau malah norak?



Penulis & Reporter : Wanli, Yessica Yulia, Rani Febryani
Reporter & Editor   : Eunike Tania        

Sabtu, 01 Oktober 2016

Ini Tipe Belajar 3 Mahasiswa IPK Tertinggi, Kalau Kamu?

Masuk bulan Oktober, berarti UTS pun semakin dekat. Untarian, apakah kamu sudah merencanakan cara belajar mu nanti? Beberapa waktu lalu kami sudah mewawancarai 3 mahasiswi FIKom Untar yang memiliki IPK tertinggi di setiap angkatannya. Mereka adalah Amelia, Chicilia, dan Felicia. Merakan akan menginspirasi Untarian untuk semangat belajar dan memberikan tips cara belajar menghadapi UTS. Yuk, langsung disimak!


1    Amelia Xan (2013)




      Amelia atau yang akrab disapa Amel merupakan Mahasiswa FIKom Angkatan 2013. Ia mendapatkan predikat IPK tertinggi untuk angkatan 2013 dengan IPK 3,95. Saat ditanya apakah ia memasang target untuk mendapatkan IPK yang tinggi, ia justru mengatakan tidak memasang target sama sekali namun memang selalu ingin mendapatkan nilai A. Kalau pun tidak dapat A, tidak menjadi masalah berarti sebab ia sudah melakukan yang terbaik. Dalam mempersiapkan Ujian Tengah Semester/Ujian Akhir Semester, ia akan mengumpulkan bahan ujian dengan lengkap dan me-review semua materi tersebut. Kendala dalam belajar seperti bahan ujian yang banyak dan harus dikuasai semua berhasil ia tangani, “selama ini kendala itu bisa diatasi dengan bersabar dan pelan-pelan dalam menguasai materi," curhatnya.

     Namun Untarian jangan salah menilai kalau Amel ini orangnya nerd ya. Pasalnya, ia juga memiliki segudang kesibukan di luar jam perkuliahan. Ia seringkali menjadi crew di berbagai Wedding Organizer, selain itu ia juga merupakan bagian dari tim website FIKom Untar. Dalam hal membagi waktu dengan pekerjaan, Amel mengutamakan untuk menyelesaikan tanggung jawab di pekerjaannya  dahulu. Setelah itu, barulah ia menyelesaikan tugas kuliah  di waktu luang yang ia miliki.

      Ia tak lupa membagi nasihatnya untuk mahasiwa yang minat belajarnya kurang, “tipsnya adalah rajin masuk kelas meskipun di rumah tidak belajar. Kalau fokus dan berusaha memahami materi saat kita di kelas, setidaknya kita bisa mengerti sedikit, bukannya tidak tahu sama sekali.”


2.    Chicilia Wongsodiredjo (2014)
    



    Saat ini Chicilia duduk di bangku perkuliahan semester 5. Ia menyandang predikat IPK 3,97 untuk angkatan 2014. Berbeda dengan Amel, Chicil sapaan akrabnya memang selalu memasang target yang tinggi untuk urusan nilai. Dalam mempersiapkan UTS/UAS, biasanya ia baru mulai belajar H-1 sebelum ujian karena ia akan cepat lupa jika belajar dari jauh-jauh hari. Namun sebenarnya ia telah mencicil belajar untuk ujian ketika ia berada di kelas dan benar-benar memperhatikan dosen.

     Tak hanya disibukkan dengan perkuliahan, ia juga aktif berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiwa FIKom Untar (BEM FIKom Untar) semenjak semester 1. Kini ia merupakan Wakil Ketua BEM FIKom Untar Periode 2016/2017. Selain BEM, ia juga ambil bagian dalam kepengurusan di Gereja. Bahkan belum lama ini, Chicil mendapatkan Beasiswa Djarum Angkatan 32. Hal ini tentu membanggakan sebab tidak setiap tahun mahasiswa FIKom Untar lolos seleksi Beasiswa Djarum.

      Meskipun memiliki berbagai kegiatan, ia dapat tetap membagi waktu dengan baik, “saya selalu punya prinsip kalau kita yang mengontrol waktu, bukan waktu yang mengontrol kita. Jadi segala sesuatunya bisa diatur asal kita punya skala prioritas yang baik," jelasnya.

     Chicil pun berpesan untuk kamu Untarian, “kemampuan tiap orang memang beda-beda. But at least do your very best effort and please no cheating ya."


      Felicia Loekman (2015)





b   Sama seperti Amel, ternyata Felicia tidak mempunyai target untuk mendapatkan IPK tertinggi. Namun ia selalu berusaha untuk memberikan dan berusaha semaksimal mungkin dalam apapun yang dilakukannya. Ia memilih untuk kerja keras terlebih dahulu daripada fokus terhadap hasilnya. Ia menyandang predikat IPK 3,95 untuk angkatan 2015. 

    Belajar UTS/UAS bagi Felicia ternyata sulit untuk mencicil dari jauh-jauh hari. Maka dari itu, ia sering memanfaatkan sedikit waktu yang ada untuk membaca walaupun pada akhirnya kerap ketiduran. Namun dengan cara mencicil tersebut, ia akan sedikit teringat sehingga nantinya akan membantunya saat persiapan UTS/UAS. Maka itu, sehari sebelum UTS ia akan mengulang semua bahan yang telah dipelajari. Ia bukan hanya menghafal saja tapi juga memahami bahan-bahannya. Menurut Felicia, bahan UTS/UAS terlalu sulit karena tidak dibaca dengan baik, padahal materi-materi tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari. Felicia akan lebih mudah menghafal bahan ujian jika ia membacanya dengan keras-keras.

    Selain kuliah, ternyata Felicia juga sibuk bekerja. Namun membagi waktu bukan hal yang sulit baginya karena setiap kegiatan sudah ada jatah waktunya, jadi ketika sedang di kelas ia berusaha mungkin untuk fokus mendengarkan dan mencatat. Hitung-hitung dengan cara begitu ia sudah mencicil untuk belajar.

   Terakhir, Felicia juga punya tips belajar untuk Untarian. "Coba ciptakan suasana yang membuat kita enjoy tapi tetap bisa belajar. Jadi suasananya menyenangkan tapi tetap tujuannya belajar. Misalnya sambil mendengarkan musik."

      Nah, kalau kamu bagaimana metode belajar mu untuk menghadapi UTS nanti? Selamat menghadapi UTS, ya!

         Penulis   : Eunike Tania & Bella Hutabarat
           Reporter : Eunike Tania
           Editor     : Bella Hutabarat

Alasan Kenapa Pas Weekend Kamu Harus Nongkrong Bareng Teman

Weekend adalah hari yang ditunggu-tunggu setiap orang setelah sibuk dengan kuliah atau kerjaan. Ada yang menghabiskan waktu dengan pergi ke bioskop, santai di rumah, atau nongkrong bersama teman-teman. Kalau kamu pilih yang mana?

Dari sekian Untarian yang diwawancarai, kebanyakan dari mereka menjawab nongkrong bersama teman-teman. Well, memang tidak ada yang salah apapun jawabannya. Namun, apabila kamu memilih nongkrong bersama teman, ternyata ada banyak sekali faedahnya loh. Setelah melakukan wawancara bersama beberapa Untarian, kita pun memiliki 3 alasan kenapa kamu harus nongkrong bersama teman saat weekend. Yuk, langsung dilihat!



1. Sosialisasi Itu Penting

Jika saat weekdays kamu menghabiskan waktu kuliah atau kerja, dan waktu sosialisasimu dengan sekitar berkurang, maka habiskan waktu saat weekend dengan bersosialisasi. Nongkrong bareng teman berarti kamu telah melakukan sosialisasi yang bukan hanya bisa menambah network mu saja, namun kamu juga bisa menambah quality time dengan teman-teman mu. 

2. Membantu Menghadapi Masalah

Selain orang tua, tentu teman bisa kamu andalkan ketika kamu menghadapi masalah. Nongkrong bersama teman, tentu bisa jadi ajang kamu dan teman-teman mu untuk saling bercerita. Utarakan masalah mu atau dengarkan masalah mereka saat waktu nongkrong. Bersama teman-teman, setidaknya kamu dan mereka akan merasa bahwa kita menjalani apapun sendirian.

3. Bisa Meningkatkan Percaya Diri

Percayalah, teman akan bisa membantu mu untuk meningkatkan percaya diri. Karena teman-teman baik mu lah yang akan menerima kamu apa adanya. Kegiatan berkumpul bersama teman secara perlahan akan menumbuhkan perasaan nyaman dan merasa diterima dalam dirimu. Teman-teman akan selalu mendukungmu dalam setiap kesempatan. Di tengah acara kumpul bersama kamu secara perlahan kamu akan berani menyampaikan pendapat dan belajar meyakinkan orang dengan argumenmu. 

Jadi, kamu sudah ada ide mau menghabiskan nongkrong kemana bersama teman di weekend nanti?

Penulis: Bella Hutabarat

Beatbox-er Untar, Ronald Yehezkiel Jasita

Hobi Untarian ternyata beragam-ragam. Tapi, apakah kamu sudah tahu ada salah satu Untarian yang hobi bermain beatbox? Bukan hanya jago loh, dia juga sudah mempunyai fan base dan followers yang mencapai belasan ribu di Instagram. So, langsung kenalan yuk sama Ronald Yehezkiel Jasita, mahasiswa FIKom Untar 2016!

instagram.com/ronaldronald_


Cowok berumur 18 tahun ini ternyata belajar beatbox sendiri alias otodidak. Dengan menonton berbagai video tutorial di Youtube, Ronald semakin tertarik untuk belajar beatbox. Tak lama kemudian, Ronald mengembangkan talentanya itu dengan bergabung ke dalam komunitas Beatbox Indonesia (instagram.com/beatboxnesia), dan sejak saat itu Ronald pun kerap tampil di beberapa acara sampai mempunyai fan base yang bernama Onaldicted. 

Ronald bersama Onaldicted ketika diberikan surprise saat ulang-
tahunnya yang ke-18

Selain pernah tampil di GIIAS, Grand Indonesia dalam acara Market Museum dan beberapa mall lainnya di bilangan Jakarta, Ronald juga sering tampil untuk acara Open House di sekolah-sekolah seperti SMAN 03, SMAN 10, SMAN 114, dan SMK Bunda Mulia Jakarta. Apabila sedang tidak ada waktu manggung, ia kerap menghibur followers-nya di Instagram dengan meng-upload video-videonya bermain beatbox. 

instagram.com/ronaldronald_


Satu-satunya hal yang menjadi awal mula kesukaan Ronald terhadap beatbox adalah karena ketertarikannya terhadap musik. Dengan bermain beatbox, berarti ia telah bermain musik dengan cara yang unik karena tidak semua orang bisa bermain beatbox. Beatbox pun dapat dimainkan dengan cara sederhana tanpa harus menggunakan alat yang mahal selain mulutnya sendiri. 

Sukses terus ya, Ronald. Semoga semakin terkenal dan jago bermain beatbox-nya!

Penulis: Bella Hutabarat

Gaya berpakaian ala Korea di Universitas Tarumanagara

Maraknya Hallyu (Korean Wave) di kalangan  masyarakat Indonesia membawa pengaruh yang besar. Hal tersebut terlihat dari sedikitnya waktu yang dibutuhkan bagi Hallyu untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Hallyu berhasil menggeser posisi budaya kebarat – baratan yang sudah lama tinggal di masyarakat Indonesia. Mulai dari lagu yang didengarkan,gaya rambut hingga cara makan yang menginginkan makanan yang serba instan atau fast food, ditambah dengan menjamurnya boyband dan girlband di industri permusikkan Indonesia akhir – akhir ini.
Namun dampak yang paling terlihat jelas yaitu pada bidang fashion atau pakaian yang dikenakan  oleh mahasiswa khusus nya mahasiswa di Universitas Tarumanagara. Sekarang mahasiswa lebih menggunakan pakaian yang simple dan lebih ke korea-korean.
(Foto Erika Tanuwijaya)

“Lucu aja pakaian nya, simple ga terlalu mencolok dan bikin lebih tambah cute gitu hahahahaha.”  Helena – Teknik Arsitektur 2015. Sama halnya dengan Erika - Mahasiswa Ekonomi Akutantas 2015 ia mengaku menyukai  gaya korea yang cenderung menunjukkan image imut.  “Ya suka sepatu nya, lucu-lucu banget, bikin gw tambah tinggi terus juga pakaian nya ga norak – norak. Simpel gitu lah.” Erika juga  mengagumi make-up orang korea karena terlihat natural walaupun banyak step-by step nya

Menurut mereka trend korea adalah kebiasaan yang sulit di hilangkan karena efek dari drama korea dan biasanya wanita dari segala jenis umur menyukainya. Pakaian yang dikenakan oleh para aktris dan aktor drama tersebut cenderung menjadi tren pakaian di negara asalnya yaitu Korea, dan juga di Indonesia.



Penulis : Rani Febriyani – Yessica Yulia
Editoria : Rani Febriyani – Yessica Yulia



Cara belajar Untarian

Mendekati musim ujian, para mahasiswapun mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ujian. Nah, kira - kira gaya belajar apa yang diterapkan oleh para mahasiswa khususnya Untarian?

1. Belajar dengan suasana sunyi dan tenang
Cara belajar dengan suasana sunyi ternyata menjadi cara andalan bagi Calvin mahasiswa Hukum angkatan 2013. "Karena materinya susah jadi gue harus bener - bener diem banget kalo mau hapal." Dia menambahkan kadang ia sampai harus belajar sampai subuh hari agar mendapatkan kesunyian yang cocok untuk menghafal materi dengan lebih lancar dan lebih tenang. 

2. Belajar sambil mendengarkan musik
Mendengarkan musik memang merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan, namun apakah belajar sambil mendengarkan musik juga menyenangkan? Wanda mahasiswa jurusan DKV Fakultas Seni Rupa dan Desain Untar rupanya lebih memilih cara belajar sambil mendengarkan musik karena menurutnya mendengarkan musik dapat membuat pikirannya menjadi lebih tenang dan dapat lebih berkonsentrasi. Musik yang didengarkan tentu bukan tipe musik hardrock metal, melainkan musik klasik instrumental piano seperti Fur Elise karangan Beethoven dan Canon in D Major karangan Pachelbel. "Abisnya lebih enak kalo dengerin musik sambil belajar, daripada sepi doang ajdi garing gitu mending sambil dengerin musik." 


                                                                            
3. Belajar sambil berdiskusi
Cara belajar yang satu ini banyak diterapkan oleh Untarian karena dianggap lebih efektif dibanding belajar sendirian. Apabila tidak mengetahui jawabannya, mahasiswa di dalam grup diskusi tersebut dapat menanyakan kepada mahasiswa lainnya yang lebih mengetahui mengenai permasalahan atau soal tersebut. Sehingga mereka dapat mendiskusikan soal tersebut dan akan menemukan jawabannya. Cara belajar ini diterapkan oleh Frando mahasiswa Teknik Sipil 2014. Ia seringkali pergi ke kosan temannya untuk belajar bersama teman - temannya. Cara belajar sambil berdiskusi diakui lebih membantunya menghafal semua materi yang diajarkan.

4. Belajar sambil membaca materi
Beda halnya dengan Julio, mahasiswa DKV semester 7 ini mengaku lebih suka belajar sambil melafalkan ulang materinya. "Biar keinget langsung di otak jadi diucapin ulang." Cara ini dirasa paling jitu untuk menghadapi ujian yang sudah dilaluinya selama 7 semester. 

Itulah cara - cara belajar para Untarian, kalo kamu menerapkan cara belajar yang mana?

Penulis : Yessica Yulia 915140071

Cantik dan Stylish, Ini Dia OOTD Ala Morisca

Generasi millenial saat ini tercirikan dengan semakin banyaknya kreatifitas melalui digital media. Salah satunya banyak bermunculan fashion enthusiast atau seseorang yang mempunyai antuasias tinggi dalam dunia berbusana. Bukan hanya sekedar menyukai saja, namun mereka juga menjadikan sosial media sebagai wadah untuk mengekspresikan antusiasmenya. Mereka kerap mem-posting Outfit of The Day atau yang sering kita kenal sebagai OOTD, untuk memberikan inspirasi kepada followers akan busana yang dikenakannya sehari-hari.


Morisca, salah satu anak FIKom Untar 2014 adalah fashion enthusiast yang bisa menjadi inspirasi kamu untuk berbusana sehari-hari. Yuk, lihat langsung OOTD ala Morisca!


1. Basic Outfit - Pastel Colour


2. Sentuhan maskulin yang tetap keliatan tylish!


3. Denim Jacket Ala Vintage


4. Never Go Wrong With Black!


5. Nah, ini nih yang lagi nge-trend. Croptop / bra over shirt!


6. Style with Bomber Jacket!


7. Morisca juga pernah membuat choker buatannya sendiri, loh.


8. Adidas full colour yang bisa kamu gunakan untuk pakaian sehari-hari


Jadi, OOTD ala Morisca mana yang kamu sukai?

Penulis: Bella Hutabarat