Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2016

Personal Branding on Social Media



Baru-baru ini banyak terjadi kasus yang disebabkan karena keberadaan media sosial, seperti salah satunya kasus salah seorang selebgram yang dipanggil oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diduga terkait masalah konten vulgar dan penggunaan bahasa kasar yang diposting di akun media sosialnya. Dalam budaya barat, mungkin hal tersebut sudah biasa terjadi dalam lingkungan pergaulan. Tetapi di Indonesia, hal tersebut tentu saja melanggar nilai dan norma yang berlaku. Perilaku itu dinilai bisa memberikan pengaruh buruk terhadap remaja.
               
Pada 23 September 2016 lalu, BCA bekerjasama dengan Untar Career mengadakan acara seminar bertemakan “Personal Branding on Social Media” yang diadakan di Universitas Tarumanagara. Duardi Prihandoko—Head of Digital Marketing BCA—, selaku pembicara dalam acara tersebut menjelaskan tentang bersosial media yang baik dan menguntungkan. Menjadi terkenal di media sosial memanglah bukan hal yang mudah. Kita harus pandai-pandai mengatur konten apa saja yang akan kita posting. Konten yang berbobot dan juga memiliki manfaat untuk publik. Kita tidak boleh sembarangan memposting sesuatu yang dapat menyinggung orang lain. Karena dalam media sosial ini jaringannya sangat luas dan bertahan lama. Pada era yang serba digital, media sosial dapat diakses dimanapun dan kapanpun, serta konten yang kita posting akan tetap tersimpan dengan jangka waktu yang panjang.
                “Kalau mau eksis di media sosial harus buat konten yang menarik. Yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Jangan posting hal-hal yang tidak penting. Orang juga pasti akan malas melihatnya.” Ucap Duardi. Tak lupa ia juga mengaskan bahwa dalam bermedia sosial, kesopanan harus tetap dijaga. Karena bagaimanapun, sesuatu yang kita posting itu mencerminkan diri sendiri. Jika konten yang kita posting di media sosial saja dianggap annoying, bagaimana orang lain mau menilai bagus pada kepribadian kita. Jangan karena kebelet eksis, kita malah membuat kontroversi. That’s not cool, guys..

Penulis : Ulfa Rizkayana 915140197

CNN Indonesia Meet Up! #4 – Desi Anwar



Sosok Desi Anwar memang sudah tidak asing lagi di dunia pertelevisian Indonesia, khususnya pada bidang jurnalistik. Wanita berkelahiran Bandung, 11 Desember 1962, merupakan seorang presenter berita terkemuka di Indonesia. Desi memulai kariernya di RCTI, membawakan acara berita Seputar Indonesia, Nuansa Pagi, Buletin Siang dan Buletin Malam. Pekerjaan ini ia lakoni sampai tahun 1999, sampai akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke situs portal berita Astaga.com. Pada tahun 2000, dia kembali ke dunia redaksi televisi dan bergabung dengan stasiun berita pertama di Indonesia, Metro TV. Di stasiun televisi itu, kini ia menjabat sebagai GM Marketing and Business Development. Sesekali Desi-pun tampil membawakan acara di Metro TV, seperti Face to Face with Desi Anwar dan Economic Challenges with Desi Anwar. Kini ia bergabung sebagai jurnalis di CNN Indonesia yang resmi mengudara pada tanggal 17 Agustus 2015 yang trpat dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Disamping sebagai seorang jurnalis, Desi juga hobi fotografi dan jalan-jalan. Hobinya itu ia tuangkan dalam buku yang bertajuk A Romantic Journey: Notebook of A Traveller.


Pada acara Meet Up! #4 yang diadakan oleh CNN Indonesia di Universitas Tarumanagara pada tangga 28 September 2016 lalu, Desi Anwar berkesempatan untuk hadir dan menceritakan sedikit pengalamannya di bidang jurnalistik. Wanita yang memulai kariernya pada tahun 1990 ini bercerita bahwa semenjak munculnya stasiun TV swasta, penonton di TV nasional menjadi berkurang. Jaman dahulu tidak ada seorang jurnalis yang boleh meliput ke Istana Presiden, tetapi karena banyak masyarakat yang mulai menonton siaran TV, akhirnya Presiden-lah yang berkunjung ke stasiun  TV tersebut. Seiring berjalannya waktu, banyak bermunculan stasiun-stasiun TV swasta berikutnya. Kompetisi siaran TV masih berkisaran pada iklan komersil, oleh karena itu akan berdampak terhadap isi berita yang akan ditayangkan.
“Karier saya didalam pertelevisian, semakin banyak informasi yang mereka miliki tentu akan membuat mereka menjadi kritis saat mereka melihat dan tidak setuju dengan infromasi yang diberikan, hal ini terjadi pada tahun 1998. Lalu muncul evolusi bagaimana kita menyiasatinya. Yang terjadi saat ini pada remaja adalah flegmentasi.” Ucap Desi Anwar. Beliau juga menambahkan bahwa ia tidak mementingkan eksistensi. Apapun yang dilakukan harus memiliki makna terhadap diri sendiri dan bagi orang lain, lebih-lebih komunitas.

Penulis : Ulfa Rizkayana, Martalena, dan Rosalin.

SMAT di UNTAR

SMAT Tzu Chi Bersama UNTAR



Pada hari Sabtu pagi, 24 September 2016, diadakan kegiatan Sosialisasi Misi Amal Tzu Chi (SMAT) yang ketiga kalinya di Universitas Tarumanegara (UNTAR).

Yayasan Buddha Tzu Chi adalah organisasi sosial berasal dari Taiwan, berdiri sejak tahun 1966. Dimulai dengan misi amal, berlanjut ke misi kesehatan, pendidikan, budaya humanis, bantuan internasional, donor sumsum tulang, pelestarian lingkungan, dan relawan komunitas. Hingga tahun 2013, Tzu Chi telah tersebar ke 50 negara di 5 benua, memberikan bantuan terhadap orang yang membutuhkan dan menginspirasi orang yang mampu untuk membangkitkan cinta kasih.


Kegiatan SMAT pagi itu dihadiri oleh 40 orang mahasiswa UNTAR dan 8 orang relawan Tzu Chi. Acara yang dimulai pada pukul 09.30 WIB itu diawali dengan sharing tentang program SMAT. Menjelaskan tentang semangat awal adanya celengan bambu yang juga menjadi bagian dari program SMAT dan penyalurannya ke masyarakat. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang program “Like & Share”, menyebarkan semangat berdana lewat media sosial. Lalu para mahasiswa yang sebelumnya pernah mengikuti kegiatan SMAT berkesempatan untuk menuangkan uang yang mereka kumpulkan dalam celengan bambu. Salah satu yang berpartisipasi adalah Anthony yang memberikan tips untuk menabung dari uang kembalian saat berbelanja. Setelah itu, para relawan juga mendata dan membagikan celengan bambu kepada mahasiswa yang belum memilikinya.

Pada awal pendirinya dana amal Tzu Chi berasal dari 30 ibu rumah tangga yang menyisihkan 50 sen (jika di rupiahkan sekitar 200 rupiah) uang belanja didalam celengan bambu untuk membantu orang yang kurang mampu. Dari situlah awal mula adanya celengan bambu yang setiap hari menabung uang 50 sen dan sejak itu banyak orang yang berbuat amal melalui celengan bambu.

Dana yang dikumpulkan celengan bambu untuk membantu sesama yang membutuhkan seperti: bantuan biaya pengobatan bagi orang-orang yang sakit, bantuan biaya pendidikan untuk orang-orang yang sangat bertalenta tetapi kurang secara ekonomi, bantuan biaya hidup untuk kakek dan nenek yang hidup sebatang kara, bantuan bencana: untuk banjir bandang di garut jumlah korban semakin hari semakin banyak tim dari tangga darurat tzu chi sendiri juga melakukan dan mempersiapkan bantuan untuk garut melalui dana dari celengan bambu ini.
 
Pelaksanaan bakti sosial kesehatan sejak tahun 1999 sampai Juni 2013 telah diadakan 92 kali baksos pengobatan skala besar dan telah membantu lebih dari 200 ribu pasien tidak mampu. Penyebarannya dari ujung Aceh sampai ujung timur di Papua. Selama 10 tahun awal berdiri dengan tujuan misi amal, setiap 10 tahun ke depan berganti-ganti misi menjadi kesehatan, pendidikan, budaya dan humanis. Hingga saat ini kembali menjadi misi amal. Pertama kali program SMAT di informasikan di UNTAR pada November 2015.Program SMAT sudah berlangsung di sekolahan, perkantoran, perusahaan, pemerintahan, universitas. Tujuan SMAT ini telah di tertulis dicelengan bambu “Dana Kecil Amal Besar” untuk membantu sesama yang membutuhkan. Dengan setiap hari kita memasukan dana sama halnya setiap hari kita berbuat kebajikan untuk membantu orang.

Niat tulus bagaikan tetesan air, jika setiap orang memberikan satu tetes, maka kumpulannya akan menjadi sebuah lautan. Sama halnya dengan dana kecil dari tiap orang, jika dikumpulkan akan menjadi manfaat yang besar bagi orang lain.”. Kata Martha Khosyahri selaku anggota pengurus Tzu Chi yang telah bergabung sejak 2008.

Tidak dapat semua orang langsung mendapatkan bantuan, survey ketat dilakukan mencegah adanya memanfaatkan bantuan bagian yang tidak membutuhkan. Dana yang diperoleh dari orang banyak, dan dipertanggung jawabkan SMAT Tzu Chi. Semua bantuan akan dialokasikan kepada sasaran yang tepat.

“Kita pernah mengalami penolakan di padang, tetapi saat ini kita sudah diterima.”Kata salah satu anggota pengurus Tzu Chi Martha. SMAT sudah tersebar di DKI Jakarta bagian Barat, Utara, Timur, dan Pusat.

Kegiatan SMAT Tzu Chi di UNTAR mengenalkan bagi mahasiswa yang belum tahu, perlunya membantu bagi mereka yang memiliki kelebihan, serta kecukupan dalam kehidupannya. Mengingatkan bagi mereka yang sudah tahu tujuan dari SMAT Tzu Chi.

Berikut adalah video kegiatan SMAT Tzu Chi di UNTAR:



Penulis & Reporter: Martalena/915140120
                                 Yunita/915140162

Minggu, 02 Oktober 2016

CNN Indonesia Meet UP! #4 Hadir Bersama News Anchor




          Mungkin kita tidak asing lagi dengan nama CNN. Ya, CNN merupakan salah satu media televisi. CNN telah dibuka dibeberapa negara, namun di Indonesia merupakan salah satu televisi swasta yang baru keluar didunia pertelevisian. Pada kali ini CNN menggelar, “CNN Indonesia Meet Up 2016”. Acara ini yang diselenggarakan oleh bagian Public Relation CNN yang bekerjasama dengan BEM FikomUntar, kehadiran CNN Indonesia di UNTAR merupakan ke-4 karena sebelum-sebelumnya telah hadir di kampus lainnya,  Rabu (28/9) siang, di Gedung M lantai 8 Universitas Tarumangara.


Banyak peserta yang sangat antusias dengan acara ini, sehingga acara ini mencapai kurang lebih 400 peserta. Peserta yang hadir tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja, melainkan kalangan pekerja maupun pelajar turut serta dalam acara ini. Adapun narasumber yang hadir dalam acara ini Prabu Revolusi, Annisa Pagih, dan Desi Anwar. Adapun yang dibahas dalam newsroom session ini ialah adaptasi jurnalis televisi di era digital dan menguasai public speaking sebagai langkah awal menjadi seorang news anchor.


Prabu Revolusi (lahir di Bandung, Indonesia, 16 Juni 1980; umur 36 tahun) adalah pembawa acara berita berkebangsaan Indonesia. Sejak 25 Juni 2015, Prabu bergabung di CNN Indonesia sebagai Senior News Anchor dan Head of Anchor. Di CNN Indonesia, Ia membawakan program CNN Indonesia Newsroom dan CNN Indonesia Newsdesk. Ia sekarang mengajar Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina.

Sebelum di RTV, tahun 2008 Prabu Revolusi bekerja di Metro TV membawakan berita Metro Pagi, Editorial Media Indonesia dan Indonesia This Morning. Kariernya pun meronjak hingga menjadi penyiar berita dalam acara pagi 8-11 show. Prabu adalah alumni Institut Teknologi Bandung. Sebelum bekerja di Metro TV, Prabu sempat bekerja di Trans TV. Ia juga menulis sebuah buku Secangkir Kopi Inspirasi. Prabu dikaruniai dua orang putra, Kaisar Prabuditya Putra Revolusi dan Fauzi Khaleev Putra Revolusi. Sejak 3 Mei 2014, dia bersama Mehulika Sitepu menjadi penyiar berita utama dalam acara Lensa Indonesia Pagi di Rajawali Televisi dan bertanggung jawab sebagai Executive Producer. Tanggal 25 Juni 2015, Prabu Revolusi bergabung bersama CNN Indonesia dan membawakan program CNN Indonesia Newsroom & CNN Indonesia Newsdesk di channel CNN Indonesia

“Era digitalisasi itu era yang tidak bias dihindarkan. Banyak teori komunikasi sudah mulai mendalami era new media. Proses peralihan media konservatif ke media baru ini sedang berjalan. Media baru memiliki perilaku yang berbeda dari media konservatif. Media konservatif memiliki behavior/tujuan mengumpulkan orang di satu tempat dan mereka menikmatinya bersama-sama, sedangkan new media itu ada dimana-mana. Media baru bersifat individualistik, semua orang dapat mengakses hal yang sama ditempat yang berbeda. Munculnya new media ini tidak bisa dihindarkan, di Indonesia sendiri bahkan sudah mulai dibuat penyiaran digital dan akan mulai direalisasikan tahun 2019. Industri sudah harus mempersiapkan diri untuk dunia digital karena masyarakat sudah berubah ke era digital, tinggal industrinya saja yang harus mulai dipersiapkan.” ungkap Prabu Revolusi.

Public Speaker yang Impresion harus bisa mengontrol emosi. “Saya yakin seorang Mario Teguh yang super katanya. Pertama kali awalnya datang pasti tegang. Coba berani bersyukur pada saat tegang, tujuannya untuk melatih mental.” ujar Prabu.

Adapun Harapan  “menjadi jurnalis itu bias menjadi profesi semua orang. Tidak peduli umur, gender dan hobi, kalian bias menjadi seorang jurnalis. As long as you know how to be a good journalist. Semoga event ini bias memberikan sedikit pencerahan kepada semua agar bias menjadi seorang jurnalis.” tambah Prabu.


Penulis & Editor : Andrea Prayoga/915140158
 Yunita/915140162
 Ulfa Rizkayana/915140197